Membantu Tugas Perkembangan Anak (Bag 1)

by Dwi Rukhaniati Ulya

Berikut hasil perbincangan dalam acara kajian tematik pekanan di Iqro Center. Rabu, 24 Okt 2012.

Sekilas tentang pembicara

Mba Indrayanti Psi adalah seorang psikolog dan juga staf pengajar fakultas psikologi Universitas Gajah Mada. Sedang menempuh S3 di Belanda namun mampir sebentar di Sydney mengikuti supervisor.

Sekapur Sirih

Perjalanan hidup seorang anak sangatlah unik dan bermakna. Setiap anak memiliki perbedaan dalam segala sisinya. Pengalaman selama menjadi anak akan membentuk bagaimana kepribadian seseorang ketika dewasa kelak. Tugas orang tua lah untuk mengantar putra-putrinya untuk melewati berbagai tahapan kehidupan. Tidak selalu menginterupsi namun mengasihi. Bukan pula membebaskan namun juga mengkoreksi. Mari berbahagia menjadi orang tua anak-anak kita.

Materi

Ada hal-hal yang perlu kita ketahui dan pahami sebelum membantu orang lain (anak termasuk didalamnya):

A.  Knowing Ourself

Bagaimana kemudian kita sebagai orang tua (ibu)mengetahui betul bagaimana diri sendiri.

Misalnya dari aspek:

  1.  cognitioncognition is a group of mental processes that includes attention, memory, producing and understanding language, solving problems, and making decisions).
  2. Emotion (emotion is the generic term for subjective, conscious experience that is characterized primarily by psychophysiological expressions, biological reactions, and mental states. Emotion is often associated and considered reciprocally influential withmood, temperament, personality, disposition, and motivation as well as influenced by hormones and neurotransmitters such as dopamine, noradrenaline, serotonin, oxytocin and cortisol. Emotion is often the driving force behind motivation, positive or negative.  Emotion is also linked to behavioral tendency).
  3. Social ( attitude, orientations, or behaviors which take the interests, intentions, or needs of other people into account)
  4. Dan lain-lain

Dalam pembahasan karakter, selemah apapun dalam persepsi kita, karakter tidak mengenal salah atau benar. Hanya memerlukan pengarahan untuk sesuatu yang sesuai (right place, right condition, right person,etc). Misalnya karakter marah, bukan berarti orang tersebut salah karakternya. Disebutkan marah juga salah satu media katarsis (melepaskan emosi jiwa) sehingga orang setelah marah merasa lega. Namun yang salah adalah bila dia marah tidak pada tempatnya atau pada orang yang salah.

Intinya adalah boleh marah namun jangan suka marah-marah.🙂

B.   Knowing Others

Mengetahui dan memahami orang yang akan kita bantu (dalam hal ini anak kita)

Untuk membantu memudahkan bisa dilihat dari pengelompokan berdasarkan fase perkembangan anak berikut ini:

  1. 0 – 1 tahun

Pada fase ini mulai terbangunnya rasa kepercayaan (trust) pada anak. Siapa orang yang selalu dilihatnya itulah sosok kepercayaannya. Terutama sekali ketika momen akan tidur dan bangun tidur. Maka bila si ibu selalu hadir dalam momen pentingnya, ayahnya kurang dikenali. Wajar.

Tak heran bila sosok yang sering hadir adalah pengasuh dan bukan ibunya, maka dialah yang akan dipercayai.

Disebutkan pula tahap ini sebagai fase oral. Artinya fase yang memaksimalkan fungsi oral. Bayi pada usia ini biasanya memang sedang menetek atau bila tidak, digantikan dengan dot. Banyak kasus bayi yang tidak menetek namun juga tidak diberikan dot untuk ‘dikenyot’ dan sebagai gantinya susu diberikan dengan peratara sendok. Berarti bayi tersebut “tidak selesai/tuntas salah satu tahap perkembangannya”. Kemungkinan besar, akan berdampak pada fase-fase selanjutnya. Kebutuhannya akan fase oral akan muncul pada tahap yang tidak semestinya.

Ada sebuah kasus yang ditangani badan konseling yaitu seorang pria berusia 40 th yang perilakunya seputar mulut sangat ‘menonjol’. Setelah menjalani serangkaian tes, didiagnosa oleh para psikolog penyebabnya karena tidak selesai tahap perkembangannya (fase oral). Ini adalah contoh kasus saja.

Tugas orang tua : menjadi kepercayaan anak dan memenuhi kebutuhannya dalam tahapan oral.

2. 1 – 3 tahun , fase otonomi

Artinya anak ingin melakukan atau merasakan sesuatu secara mandiri. Dia ingin diberikan kebebasan untuk melakukan eksplorasi sebanyak-banyaknya.

Tugas orang tua : memfasilitasi kebutuhannya, tidak melarang-larang namun mengoreksi.

Ketika anak (usia tahap ini) tertarik pada sesuatu, tanpa ragu dia akan memegang dan mengamati lalu memainkannya. Apabila dia mulai tertarik hal yang berbahaya, tugas kita untuk mengoreksi. Misalnya anak tertarik dengan api lilin, ketika dia mendekat, lilin kita jauhkan atau sembunyikan. Hal itu akan berulang, sampai dengan dia belajar bahwa api berbahaya, tidak untuk dirinya. Namun bila dalam proses eksplorasi anak sampai membuat rusaknya barang, orang tua jangan marah. Anggaplah itu investasi jangka panjang untuk kebaikan anak dalam memenuhi rasa keingintahuan. Apabila orang tua sampai marah (anak-anak tau intonasi orang marah) apalagi sampai ke fisik (mis : memukul) , akibatnya mereka jadi takut dan bila berulang-ulang, membuat anak tidak mau lagi bereksplorasi. Namun bila rasa ingin tau lebih besar daripada rasa takut si anak, dia akan terus bereksplorasi namun dipersepsi negative oleh orang tuanya. Lalu label ‘anak nakal’ disematkan.

Bila anak sudah sukses melewati fase ini, orang tua yang diuntungkan. Mengapa? Anak telah menemukan kemandiriannya. Bisa buang sampah, makan – minum sendiri, menaruh piring kotor di tempatnya dan lain-lain.

bersambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s