Membantu Tugas Perkembangan Anak (Bag 2)

by Dwi Rukhaniati Ulya

3. 3 – 6 tahun, fase inisiatif

Munculnya ide-ide kreatif yang seringkali tidak kita sangka anak punya. Mulai suka aktivitas menggambar, menulis, membaca dan lain-lain. Tentu saja output sesuai dengan umurnya. Apabila anak menunjukkan hasil kreativitas apapun sudah semestinya kita kasih reward minimal dengan raut muka gembira. Meskipun menurut kita, gambarnya misal ‘jauh’ dari benda aslinya, tetap kita hargai. Jangan pernah sekali-kali didepan  anak menertawai hasil usahanya. Kalaupun kita ingin tertawa karena lucu atau  aneh atau alasan lain, lakukanlah di lain tempat yang anak tidak melihat.

Ada kalanya orang tua sibuk dan anak pun sibuk sendiri-sendiri. Lalu si kecil menunjukkan sesuatu hasil kesibukannya yang tentunya dia ingin mendengar respon positif dari orang dewasa. Karena masih sibuk, alih-alih merespon,  yang ada  orang tua tidak menanggapi, mendiamkan atau bahkan memarahi bila merasa terganggu. Akibat yang paling ringan anak ngambek, makin bawel, nangis. Kemungkinan terburuk, anak menjadi minder, merasa ditelantarkan, tidak berguna dan sebagainya bila situasi yang sama berulang.

Untuk mengatasi kondisi dikala orang tua sibuk dan tidak mau diganggu sementara waktu, sebenarnya bisa dengan melatih anak. Misalnya bila kita sedang sibuk memasak di dapur dan tidak mau ada gangguan, komunikasikan dengan anak secara baik-baik beberapa kali. Meskipun anak masih sangat muda, percayalah mereka mengerti. Sehingga ketika si ibu sibuk di dapur dan tidak menghiraukannya untuk waktu yang tidak lama, anak tidak akan salah menilai.

Tugas orang tua : rajin-rajin memberi reward atas berbagai inisiatif anak pada tahap ini.

Fase Egosentris

Ini bonekaku……  ini mainanku ………..   ini bundaku ………  ini ayahku …………. Dan masih banyak lainnya seakan seluruhnya punya dia saja. Yang lain ngontrak eh… ga berhak punya.🙂

Itulah egosentris anak yang demikian besar pada usia ini, sehingga perasaan iri/jealous juga luar biasa. Terutama dengan yang dianggapnya rival. Misalnya kakak/adik  yang usianya tidak terpaut jauh lebih lebih sejenis kelamin atau teman sebaya.

Fase Kognitif

Anak belajar dengan benda riil. Tidak bisa hanya dengan gambar. Belum dapat berimajinasi sempurna, memproyeksikan gambar 2 D menjadi benda asli 3D. Inilah yang disebut fase konkret operasional. Bila anak ingin mengetahui kelinci misalnya, dia harus memegang, mengelus dsb. Begitu juga ketika mengenalkan anggota tubuhnya sendiri. Maka dipegang diberitahukan namanya. Tangan, jari, kepala, mata, kaki dll.

Ada pertanyaan, bagaimana bila anak suka memegang penisnya? Apa yang harus dilakukan?

Mba Indra menjawab, itu wajar di usia ini. Hanya tidak sesuai dengan nilai etika bila dilakukan di depan orang lain/banyak orang. Solusinya adalah alihkan perhatian meskipun tangannya masih didalam celana. Sehingga perhatian anak tidak terfokus pada apa yang dilakukan tangan. Bahkan kalau pengalih perhatian sangat menarik, tak segan anak akan menggunakan kedua tangannya dan untuk sementara lupalah dia. Catatan penting, jangan menarik paksa tangan anak karena akan menimbulkan trauma psikologis yang berdampak di kemudian hari. Masalah selanjutnya adalah bila di depan orang lain/banyak orang. Apabila orang lain mengetahui ilmu ini, maka pastilah dia akan memakluminya. Karena seiring bertambahnya usia ketika anak sudah berpindah fase, maka perilaku ini juga akan hilang dengan sendirinya. Namun, masalah bila orang lain tidak mengerti. Anak akan dipersepsi yang negatif. Orang tua bisa komunikasikan dengan anak pelan-pelan. Bila masih berulang juga, biarkan orang lain yang menegur, sehingga anak akan malu sendiri. Namun, biasanya dia akan mengadu dan kita tetap jadi orang kepercayaannya. Itu poin pentingnya.

4.  6 – 12 tahun , fase industry

Pada tahap ini anak-anak umumnya berada di usia sekolah dasar (primary school). Fase industry dimana anak senang bereksplorasi akan segala hal yang menarik dan menimbulkan tantangan buatnya, berinteraksi dengan teman-teman dan yang menarik, ada kebutuhan anak untuk berkompetensi.

Peran orang tua : mensuplai sebisa /sebanyak mungkin infrastruktur  untuk memfasilitasi kebutuhan eksplorasi anak.

Secara umum, anak belum menunjukkan hobi, bakat, dan kecenderungan khusus akan suatu bidang tertentu. Mereka masih suka mencoba-coba segala hal yang menarik dan nantinya bisa ditekuninya seperti memelihara binatang, menanam tanaman, berbagai les dan sebagainya. Suatu ketika akan muncul permintaan-permintaan seperti  ingin les lukis, les musik, les tari dll karena melihat teman-temannya ikut les-les tersebut. Meskipun kedepannya anak bisa bosan/tidak suka dan tidak mau lagi les, kita tidak tau juga tidak akan mengira kecenderungannya dimana. Dengan membanyak-banyakan aktifitas, maka cepat atau lambat kita akan tahu di bidang apa seorang anak menonjol dan mau menekuni.

Yang ironis adalah banyak dijumpai anak ikut berbagai les, yang tentunya berbiaya besar, lalu orang tua menuntut anak untuk “berhasil” karena modal yang sudah dikeluarkan lumayan. Yang perlu diingat, anak masih dalam tahap mencoba segala hal.  Orang tua memberikan fasilitas maksimal semampunya. Bila tidak mampu, sebaiknya bisa menjalin komunikasi dengan anak. Catatan penting lain, segala fasilitas yang diberikan ke anak haruslah yang bisa menguatkan eksplorasi anak. Sedangkan koreksinya adalah bila hobi/permintaan anak sudah mengarah pada hal yang membayakan. Misal usia 6 th minta balap motor yang kecil, memelihara anjing atau hewan peliharaan yang tidak biasa dll.

Seorang audien menanyakan, bila orang tua selalu menuruti keinginan anak ketika meminta suatu barang, apakah itu tidak mengajarkan konsumtif? Menurut mba Indra, konsumtif itu terjadi bila contoh: seorang anak meminta sebuah barang dan orang tua setuju  dengan pertimbangan manfaat untuk eksplorasinya. Berangkatlah ke toko untuk membelinya, namun sesampainya disana, barang yang dituju sudah habis dan belum ada kepastian kapan akan tersedia kembali. Akhirnya demi menenangkan anak yang ngambek, orang tua membeli barang lain yang tidak direncanakan sama sekali sebelumnya. Sesampai di rumah apa yang terjadi, barang hanya sebentar dipegang lalu tergeletak begitu saja.

Ada bagusnya sistem ‘menunda keinginan’ anak. Orang tua setuju untuk membelikan, namun tidak serta merta melainkan memberika jeda waktu sehingga anak belajar sabar. Ketika akhirnya si anak dapat sesuatu yang diinginkannya, kegembiraannya akan lebih lagi. Atau bisa juga dengan memberikan sebuah tugas yang cukup berarti pada anak sebelum kita berikan hak atas barang yang dimintanya.

Penanda  lain dari fase ini adalah mulai munculnya keinginan berkompetisi.  Ada dorongan dari dalam diri anak untuk lebih baik dari temannya di berbagai hal. Lalu bagaimana cara kita membantu anak? Perlu disadari oleh para orang tua, ini kompetisi berguna bagi anak bukan berguna hanya untuk orang tua yang acapkali membebani anak. Menurut narasumber, target mendidik anak adalah

a. Perilaku anak yang berhubungan dengan aspek afektif (nilai, norma, budipekerti, akhlaq terpuji dll)

b. Tanggung jawab terhadap perilakunya.

Dalam berkompetisi, kita komunikasikan tentang aspek afektif pada anak, juga harapan kita (akhlaq terpuji dari anak tentunya). Hal yang selanjutnya mengenai tanggung jawab atas pilihan. Bahwa proses menuju hasil yang diinginkan lebih penting daripada hasilnya itu sendiri. Kemudian menjelaskan akibat/resiko atas pilihan keputusan anak. Menyemangati anak bila ‘gagal’ agar mau dan mampu bangkit kembali.

Contoh sederhana, anak akan ikut suatu lomba. Maka kita komunikasikan etika dan norma. Apabila ingin jadi yang terbaik maka harus bekerja keras. Bisa saja ambil jalan pintas namun tentu saja beresiko dan anak harus bertanggung jawab untuk itu. Apapun hasilnya, baik berhasil ataupun kegagalan, merupakan pelajaran yang sangat berguna bagi kehidupannya kelak.

Ada pertanyaan, bolehkan menggunakan cara membandingkan anak dengan anak lain (kakak/teman) dengan maksud untuk menyemangati?

Mba Indra menjawab, cara membanding-bandingkan anak, hasilnya bisa efektif juga bisa tidak efektif. Efektif bila kemudian memacu anak sesuai harapan orang tua. Tidak efektif bila anak jadi berperilaku negatif terhadap anak lain yang diperbandingkan. Tidak peduli itu saudaranya atau teman sebaya. Apabila opsi kedua yang terjadi maka, harus dicarikan solusi lain untuk mendongkrak semangat kompetisi anak.

Ciri lainnya fase ini adalah suka bermain dengan sesama jenis. Anak perempuan maunya main sama teman perempuan. Begitu juga sebaliknya. Hati-hati!! Kata mba Indra kalau anak lebih suka main dengan teman lawan jenis. Meskipun pada usia ini belum tumbuh hasrat seksual, namun umumnya ada rasa risih bila maen dengan teman beda jenis. Apa akibat bila anak pada fase ini lebih suka main dengan lawan jenisnya? Kemungkinan besar akan ada disorientasi gender, dan mengganggu fase selanjutnya atau perilaku dewasanya.

Sebagai contoh, Jessy gadis kecil berusia 8 tahun. Dirumah, bersama ketiga abangnya dia biasa bermain. Di sekolah lebih banyak bermain dengan teman-teman lelaki. Dia tidak nyaman bermain bersama gadis seumurnya. Ketika nanti dewasa, minimal dia akan tumbuh menjadi gadis ‘tomboi’ dengan segala atributnya. Parahnya bila Jessy terpengaruh ‘terlalu dalam’ dengan pergaulannya. Yang bisa terjadi adalah kasus lesbianism. Mengapa? Karena gadis ini menganggap bahwa jiwanya laki-laki yang terperangkap dalam tubuh perempuan. Sehingga menganggap perempuan adalah kutub lawannya (secara kejiwaan) meskipun secara fisik sama. Yang terjadi, kita mendengar istilah transgender yang kian popular baru-baru ini.

Hal yang sama berlaku untuk anak lelaki. Bila gaulnya dengan para gadis, maka sifatnya jadi gemulai. Disebutlah bencong/kemayu oleh masyarakat. Bahkan jiwanya cenderung homo/gay setelah dewasa bila terlibat terlalu jauh. Itu juga yang disebut tidak selesai tahap perkembangannya.

5. 12 – 18 tahun, fase mencari identitas diri

Belum dibahas secara tuntas, karena memang bahasan usia dari 0 – 12 tahun. Semoga bisa diangkat sebagai topik selanjutnya di waktu mendatang.

Semoga bermanfaat

Campsie, Oktober 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s