Mengenal Sosok Ummahat Al Mukminin (Bag 1)

by Dwi Rukhaniati Ulya

Catatan ringkas Kajian Tematik DPW Iqro, Rabu, 31 Oktober 2012

Sosok Ummahat Al Mukminin layaknya ‘first lady’ bagi umat Islam yang patut diketahui, dikenal dan dijadikan suri tauladan oleh segenap kaum muslimin khususnya muslimat. Masing-masing memiliki berbagai keutamaan baik dalam sejarah pernikahan maupun dalam ibadahnya. Terlalu banyak hal yang dapat diceritakan dan digali hikmahnya hingga rasanya berlembar-lembar kertas terasa kurang untuk menulisnya. Namun, dengan segala kekurangan yang ada, kami upayakan untuk dapat meringkasnya. Semoga bermanfaat.

  1. Khadijah Al Kubra

Kisah Khadijah, Umm Al Mukminin, selalu meninggalkan kesan yang mendalam. Seluruh umat Islam mencintai sepenuh hati. Ia adalah istri pertama Rasulullah SAW, istri yang menjadi rekan pada saat-saat paling sulit dalam hidup beliau, istri yang selalu menawarkan cinta dan kasih sayang dalam kondisi apa pun.

Khadijah mendapat pemeliharaan dan bimbingan langsung dari Allah di sepanjang hidupnya. Allahlah yang mengarahkan Khadijah untuk menjadi teman hidup Rasulullah SAW. Allah pula yang memunculkan tekad di hatinya untuk senantiasa membela, membangkitkan tekad, dan mengobarkan semangat suaminya. Allah yang menganugerahkan kepadanya akal yang cerdas dan akhlaq yang mulia. Allah pula yang menjaganya dari segala cela, sehingga penduduk Mekah menjulukinya dengan “Ath Thahirah (wanita suci)”

Bimbingan Allah pulalah yang menjadikannya menolak setiap lamaran dari para bangsawan Quraisy sebelum akhirnya ia menikah dengan Rasulullah SAW. Bagi Khadijah, harta dan kekayaan materi merupakan sesuatu yang tidak permanen. Setelah menikah dengan Muhammad SAW, Khadijah menyerahkan semua urusan perdaganan serta pengelolaan finasial kepada suaminya yang terkenal cerdas dan jujur. Ia juga mendukung keputusan suaminya untuk bersedekah kepada fakir miskin dan membantu orang-orang yang tertimpa kemalangan. Khadijah memang sejak awal memiliki karakter yang mulia. Keputusan itu ternyata tidak salah; harta di tangan Muhammad selalu bertambah sebanyak jumlah yang ia sedekahkan. Tentu saja karakter dan keputusan Khadijah itu merupakan bagian dari rencana Allah yang MahaAgung.

Berkat segala kebaikan yang dilakukannya, Allah pun menghormati Khadijah. Suatu hari, malaikat Jibril mendatangi Rasulullah SAW dan berkata ,”Wahai Muhammad, sebentar lagi, Khadijah akan membawakan makanan dan minuman untukmu. Kalau ia datang, sampaikan kepadanya salam dari Allah dan dariku”.

Cara Khadijah menjawab salam itu pun menunjukkan keluasan pandangan dan kedalaman perasaaannya. Jawabannya itu mengandung pengagungan terhadap Allah, doa agar Allah menganugerahkan kepadanya kedamaian dan keselamatan serta salam untuk Jibril yang telah menyampaikan kepadanya salam dari Allah. Khadijah berkata ,” Allahlah Pemelihara kedamaian dan Sumber segala damai. Salamku untuk Jibril.”

Allah membimbing Khadijah untuk menyebarkan ketenangan dan cinta kasih di tengah-tengah rumah tangganya. Berbahagialah seluruh anggota keluarganya. Beliau selalu berusaha agar perasaan Rasulullah SAW tidak pernah terganggu di rumahnya sendiri. Tidak pernah kondisi rumah tangga menjadi penghalang dakwah Rosulullah. Sosoknya merupakan istri dan sahabat ideal yang selalu setia mendampingi serta menghibur Rasulullah dalam setiap kesulitan. Karena itulah Allah berkenan memberinya kabar gembira tentang sebuah rumah terbuat dari permata yang dibangun untuknya di surga.  Rasulullah SAW bersabda, “ Aku diperintahkan untuk member kabar gembira kepada Khadijah bahwa akan dibangun untuknya di surga sebuah rumah dari permata; tak ada hiruk pikuk dan rasa lelah disana.”

Allah juga berkenan untuk memberikan sebuah keistimewaan kepada Khadijah. Hanya darinyalah anak keturunan Rasulullah berasal. Keturunan ini terus berkembang dari generasi ke generasi, menyebar ke seluruh penjuru dunia Islam hingga pada masa kita ini. Merekalah anak cucu Muhammad ibnu Abdillah dan Khadijah bt Khuwailid.

Perlu kita ingat bahwa Rasulullah terlahir sebagai anak yatim. Kemudian beliau ditinggal wafat ibunya pada usia enam tahun. Sejak kecil beliau telah kehilangan kasih saying ayah dan ibu. Kakeknya, Abdul Muththalib, dan pamannya, Abu Thalib, menggantikan peran ayah bagi Muhammad muda. Namun, sepanjang hidupnya, Muhammad selalu merindukan sosok sang ibu. Barangkali Fatimah binti Asad, istri Abu Thalib, pernah mengisi peran yang hilang ini. Rasulullah mengakui hal itu sebagaimana pernyataan beliau, “Orang yang paling baik kepadaku setelah Abu Thalib adalah Fatimah binti Asad.” Tetapi Fatimah harus membagi perhatiannya untuk melayani Abu Thalib dan sejumlah keluarga besarnya. Nah, disinilah agaknya hikmah perbedaan usia yang cukup jauh diantara keduanya. Khadijah dapat berperan sebagai seorang istri yang setia, sahabat yang penuh pengertian, sekaligus ibu yang penuh kasih saying. Kehidupan rumah tangga Rasulullah diliputi kebahagiaan serta dilandasi oelh sikap ikhlas dan prinsip saling menghormati. Muhammad SAW pun hidup berkecukupan.

Sepeninggal Khadijah, Rasulullah tetap saja tidak bisa melupakannya. Beliau kerap memuji dan mendoakannya di depan istri-istri yang lain. Aisyah, satu-satunya wanita yang dinikahi Rasulullah dalam keadaan masih gadis, pernah merasa sangat cemburu. Ia bercerita,” Aku tidak pernah merasa cemburu kepada seorang wanita sebesar rasa cemburuku kepada Khadijah. Aku tidak pernah melihatnya. Namun Rasulullah sering menyebut dan mengingatnya. Ketika menyembelih seekor kambing, beliau selalu memotong sebagian dagingnya dan menghadiahkannya kepada sahabat-sahabat Khadijah. Aku pernah berkata pada Rasulullah, “ Seperti tidak ada wanita lain di dunia ini selain Khadijah.” Rasulullah menjawab, “Khadijah itu begini dan begitu dan dari dialah aku memperoleh keturunan.’ Atau pada saat lain saat  ‘Aisyah cemburu kepada Khadijah, Rasulullah pernah berkata ,”Aku dikaruniai oleh Allah rasa cinta yang mendalam kepadanya.”

Dalam sebuah riwayat lain, ‘Aisyah juga mengisahkan, “ Rosulullah hampir tidak pernah keluar rumah tanpa menyebut dan memuji Khadijah. Hal itu membuatku cemburu. Kukatakan, “Bukankah ia hanya seorang wanita tua renta dan engkau telah diberi penggati yang lebih baik daripadanya?” Mendengar itu, beliau murka hingga bergetar bagian depan rambutnya. Beliau katakana , “Tidak. Demi Allah, aku tidak pernah mendapat penggati yang lebih baik daripada Khadijah. Ia yang beriman kepadaku ketika semua orang ingkar. Ia yang mempercayaiku tatkala semua orang mendustakanku. Ia yang mempercayaiku tatkala semua oran gmendustakanku. Ia yang memberiku harta pada saat semua orang enggan member. Dan darinya aku memperoleh keturunan – sesuatu yang tidak kuperoleh dari istri-istriku yang lain.” Maka aku berjanji dalam hati untuk tidak mengatakan sesuatu yang buruk tentangnya lagi.

Rasulullah sangat menghormati Khadijah. Jasanya bagi penyebaran Islam sungguh tidak terkira. Di depan para sahabatnya, Rasulullah sering menyebut Khadijah sebagai wanita yang paling utama di muka bumi. Diriwayatkan oleh Anas, Rasulullah SAW bersabda ,” Wanita-wanita terbaik sepanjang sejarah adalah Maryam binti Imran, Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, Maryam binti Imran dan Asiyah binti Muzahim, istri Fir’aun. Peristiwa  berikut ini memperlihatkan betapa Rasulullah sangat menghormati Khadijah. Suatu hari, Umm Zafr, pelayan wanita Khadijah, datang kepada Rasulullah. Beliau saat itu berada di Madinah. Rosulullah memberikan penghormatan yang layak kepadanya. Beliau berkata ,” Wanita ini adalah sabahat Khadijah. Dan persahabatan yang baik adalah bagian dari iman.”

Putra-putri Rasulullah SAW dengan Khadijah RA :

  1. Qasim

Qasim adalah putra pertama pasangan ini. Kunya Abul Qasim diberikan pada Muhammad bin Abdullah karena kelahirannya. Namun anak ini hanya hidup selama 2 tahun saja.

2. Zainab

Zainab merupakan anak kedua, putri Rasulullah yang pertama. Nantinya Zainab menikah dengan Abul Ash ibnu Rabi’, seorang pemuda Mekah yang terkenal dengan kekayaannya, integritas moral dan cakap berdagang. Rosulullah dan Khadijah senang padanya, dan pernah memujinya sebagai menantu yang baik.

3. Ruqayyah

Putri kedua Rasulullah ini dipinang oleh Utsman bin Affan, adalah seorang pemuda Quraysh dari keluarga yagn mulia dan berstatus sosial tinggi. Juga terkenal dengan keluhuran budi dan kelembutan hatinya. Kekayaannya yang melimpah justru menjadikanya semakin rendah hati dan dermawan. Ruqayyah wafat ketika perang badar usai, yang membuat suaminya dalam kesedihan yang mendalam.

4. Umm Kultsum

Setelah kematian istrinya, Utsman sangat sedih. Berbulan-bulan ia selalu terlihat murung. Hal itu tidak lepas dari pengamatan Rasulullah. Beliau pun bertanya kepada Utsman, “Mengapa engkau selalu terlihat sedih?

Utsman pun mencurahkan isi hatinya. Ia menceritakan bagaimana ia tidak dapat melupakan istri yang selalu mendampinginya dalam kondisi seburuk apa pun. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, adakah seseorang yang merasakan kepedihan seperti yang kurasakan? Putrimu yang kunikahi meninggal dunia sehingga engkau dan aku tak lagi terikat hubungan keluarga.”

Rasulullah terharu, tiba-tiba Jibril turun dan mewahyukan kepada beliau untuk menikahkan Utsman dengan Umm Kaltsum. Utsman menerima kabar ini dengan kegembiraan dan rasa syukur yang luar biasa besar. Ia pn menikahi putri Nabi, Umm Kultsum, pada bulan Rabi’ul Awwal tahun 3 H.

5. Fathimah

Fathimah lahir ketika ka’bah sedang dibangun ulang, lima tahun sebelum ayahnya diangkat menjadi rasul. Sejak kecil, dia sudah terlihat cantik dan menawan. Ketika beranjak dewasa, Fathimah adalah orang yang paling menyerupai Rasulullah dalam hal karakter, wajah, kefasihan bahasa serta cara berjalan dan berbicara. Inilah putri yang paling dicintai Rasulullah.

Rasulullah menikahkan Fathimah dengan Ali bin Abi Tholib setelah sebelumnya menolak lamaran Abu Bakr dan Umar ibnu Al Khaththab. Dari pernikahan mulia ini lahirlah Hasan dan Husein ibnu Ali yang menjadi penerus ahlul bait, keturunan Rasulullah hingga saat ini.

6. ‘Abdullah

Abdullah lahir setelah Muhammad diangkat menjadi rasul. Ia meninggal sebelum mencapai usia 2 tahun. Kematiannya membuat salah seorang musyrik Mekah mengejek Rasulullah dan menyebut beliau sebagai lelaki yang terputus. Ejekan itu menyebar luas di kalangan kaum Quraysh hingga Allah menurunkan surah Al Kautsar sebagai bantahan bagi mereka.

~bersambung~

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s