Mengenal sosok Ummahat Al Mukminin (Bag 4)

by Dwi Rukhaniati Ulya

Ustd. Dia Hidayati, MA (disarikan dari berbagai sumber)

3.  Hafsah binti Umar (Ahli Puasa dan Shalat Malam)

Beliau adalah puteri Umar al-Khattab, sahabat Nabi yang terkemuka. Pada suatu ketika, penduduk Quraisy dihebohkan dengan banjir besar yang menimpa Kaabah, kemudian berlanjut dengan adanya ketegangan untuk meletakkan kembali Hajar Al Aswad pada tempat semula. Rasulullah Shallahu‘alaihi wasallam hadir dengan penuh wibawa menjadi hakimnya. Peristiwa ini terjadi lima tahun sebelum kenabian. Di sekitar peristiwa itulah, Hafsah  lahir di tengah keluarga yang penuh kemuliaan.

Sejak kecil, menekuni ilmu sastra. Belajar membaca dan menulis, berguru kepada Syifa’ binti Abdullah Al-Quraisyiyah Al-A’dawiyah. Kesungguhannya dalam belajar, menjadikan dirinya diantara wanita Quraisy, orang yang paling fasih berbicara, bersenikan sastra indah. Keislaman ayahandanya, Umar Al Faruq, membawa berkat yang besar kepada seluruh umat Islam terlebih lagi di dalam keluarganya. Abdullah bin Mas’ud berkata, “Kami tidak dapat solat di depan Kaabah kecuali setelah Islamnya Umar.” (Riwayat Ibnu Saad, vol.1, hlm. 270, dan Hakim, vol.3 hlm. 83-84). Hafsah tumbuh dibawah didikan salah seorang sahabat kesayangan Nabi itu.

Bersatu Cinta Dengan Khunais

Khunais bin Hudzafah r.a. (saudara Abdullah bin Hudzafah r.a.) merupakan salah seorang sahabat pertama yang masuk Islam. Keislamannya bermula sebelum Rasulullah Shallahu’alaihi wasallam menjadikan rumah Al-Arqam bin Abi Al-Arqam sebagai pusat gerakan Islam. Abu Bakr ash-Shidiq yang menjadi perantara hidayah buatnya.

Khunais meminang Hafsah yang sedang mekar meniti usia remaja. Umar menerima baik lamaran atas puterinya. Hafsah juga senang dengannya. Cinta Hafsah dan Khunais lalu bersatu. Mereka hidup bahagia dalam manisnya keimanan dan ibadah kepada Allah azza wa jalla.

Hijrah Bersama

Penentangan musyrikin Makkah semakin menjadi-jadi. Kekejaman berlaku di mana-mana. Suami Hafsah terpaksa ikut berhijrah ke Habasyah. Namun, hatinya tetap di Makkah. Tatkala kembali lagi ke Makkah, membawa isteri tercinta hijrah ke Madinah, menyahut  seruan Rasulullah Shallahu‘alaihi wasallam. Mereka hidup lebih tenang berdampingan dengan golongan Anshar yang sangat penolong sifatnya.

Terpisah Dua Jiwa

Dakwah Islam menuntut pengorbanan. Panggilan jihad di medan Badr menguji keimanan. Hafsah dengan rela hati meneguhkan suami tercinta agar menyahut seruan itu. Dalam doa Khunais, syahid menjadi cita-cita teragung. Pahlawan Badr itu berperang gagah. Seiring doa Hafsah. Khunais terus setia bertempur sehingga Islam mengangkat panji kemenangan.

Hafsah menanti-nanti kepulangan perwiranya. Bersyukur suaminya kembali. Namun, kepulang Khunais membawa cedera yang parah. Hidupnya tidak lama, sebelum kesyahidan menjemput. Rasulullah Shallahu‘alaihi wasallam menguburkannya di Baqi’, berdampingan dengan kubur Ustman bin Mazh’un. Hafsah menangis sedih namun ridha. Usianya masih muda saat itu, sekitar 20 an tahun, kepergian sang kekasih hati menjadi sebuah ujian yang menyakitkan. Tabah Hafsah menerima ketentuan. Banyak kaum kerabat dan sahabat bersimpati terutama Umar, ayahanda Hafsah.

Dianugerahi Suami yang Jauh Lebih Baik

Sesak jiwa Umar melihat putrinya dirundung pilu. Sebagai ayah, dia tidak ingin kematian menantunya turut mematikan keceriaan Hafsah. Al Faruq bertekad mencari pengganti. Lalu dengan harapan besar, menawarkan putrinya kepada Abu Bakar. Sahabat kesayangan Rosulullah Shallahu‘alaihi wasallam itu diam seribu bahasa. Terlihat dari aura wajah, sang ayah yang menghendaki kebahagiaan anak ini, tahu Abu Bakr keberatan. Tak  berputus asa, berlanjut perjalanan menemui Utsman ibnu Affan. Diutarakan niat mulia itu. Namun sekali lagi, hatinya harus menelan kekecewaan. “Saya belum bersedia menikah dengan siapapun saat ini,” jawabnya.

Sebagai menantu Rasulullah Shallahu‘alaihi wasallam, Utsman adalah lelaki yang setia hanya kepada seorang istri. Istrinya bernama Ruqayyah merupakan putri Rasulullah Shallahu‘alaihi wasallam. Beliau Shallahu‘alaihi wasallam tidak merelakan putri-putrinya dimadu selagi masih hidup. Demikian kasih sayang seorang ayah yang memahami betapa berat hidup bermadu yang bisa membawa agama seseorang wanita kepada ujian. Sehingga dalam Islam, poligami itu rukhsah (keringanan penj.) bila ada keperluan mendesak, bukanlah anjuran agama. Apabila Ruqayyah meninggal, Usman masih rela sendiri.

Ditolak dua orang sahabat membuat Umar RA sakit hati. Diadukan kesedihannya kepada Rasulullah Shallahu‘alaihi wasallam. Beliau Shallahu‘alaihi wasallam menghiburnya, “Hafsah akan menikah dengan orang yang lebih baik daripada Ustman. Demikian pula Ustman akan bernikah dengan wanita yang lebih baik daripada Hafsah.” Tidak lama, Hafsah dipinang oleh Rasulullah Shallahu‘alaihi wasallam. Umar menikahkan puterinya dengan suka cita. (Riwayat Bukhari, vol. 9, hlm. 102-103). Sementara, Rasulullah Shallahu‘alaihi wasallam menikahkan Ustman dengan puterinya Ummu Kultsum, setelah kepergian Ruqayyah.

Hafsah dimuliakan sebagai ummul mukminin pada tahun ke-3 hijriah, sebelum Perang Uhud. Rasulullah Shallahu‘alaihi wasallam memberinya mahar sebanyak 400 dirham. Kesedihan Hafsah terobati karena Allah menggantinya dengan anugerah suami terbaik di dunia. Itulah balasan indah bagi insan yang tabah mengharungi ujian hidup.

Kreatif dan Penuh Ide dalam Persaingan Merebut Cinta Suami

Rasulullah Shallahu‘alaihi wasallam sangat adil dalam gilirannya dan nafkah zahir. Namun, sebagai seorang wanita, Hafsah tahu cinta beliau Shallahu‘alaihi wasallam amat cenderung kepada Aisyah selepas Khadijah. Hafsah mendekati Aisyah dalam usaha menarik perhatian suami. Sebuah pasangan yang pas, sama-sama masih muda. Hafsah dan Aisyah pernah bersepakat untuk mengurangkan masa Rasulullah di rumah Zainab binti Jahsy.

Dikisahkan bahwa Zainab binti Jahsy menghidangkan madu untuk Rasulullah Shallahu‘alaihi wasallam dan beliau menikmatinya. Hafsah melihat dan menceritakan kepada Aisyah, sehingga mereka berdua terbakar cemburu. Diaturlah sebuah  rencana apabila Rasulullah masuk ke rumah salah seorang daripada mereka, akan dikatakan bahwa bau mulut Rasulullah Shallahu‘alaihi wasallam seperti bau maghafiir (sejenis makanan berbau tidak enak). (Rujuk lanjut HR Bukhari, no. 4912 dan muttafaq a’laih).

Hafsah juga pernah membuka rahasia Rasulullah SAW kepada Aisyah kerana kecemburuaannya. Rasulullah Shallahu‘alaihi wasallam berusaha sebisa mungkin memenangi hati istri-istrinya. Ini merupakan sebuah hal yang amat sulit. Dalam kelembutan sikap, Nabi tetap berkerja keras untuk sebuah keadilan. Namun, tatkala cemburu yang fitrah sudah bertukar menjadi fitnah atau ujian, Allah menegur perilaku istri-istri beliau Shallahu‘alaihi wasallam di dalam Surah at-Tahrim. Demikian pedihnya cemburu bahkan wanita yang paling berimanpun sukar mengendalikannya hingga mendapat teguran langsung dari Allah Ta’ala. Kisah mereka ini Allah abadikan hingga akhir zaman yang terekam di dalam al-Quran. Semoga kita mengambil pengajaran.

Cinta Teruji

Usaha keras Hafsah radhiallahu’anha untuk menyenangkan suaminya sudah berbalik menjadi perkara yang menyusahkan Nabi. Menurut beliau Shallahu‘alaihi wasallam, Hafsah perlu diberi pengajaran. Rasulullah Shallahu‘alaihi wasallam menceraikan Hafsah talak satu. Dunia bagaikan tertutup awan gelap. Diceraikan suami yang juga adalah Nabi Allah menyiksakan batinnya.

Allah tunjukkan bukti Dialah kekasih paling memahami. Dia memahami jiwa Hafsah. Memahami kesedihannya. Memahami setiap rahasia hatinya. Allah seakan memaklumi perbuatannya bukan berniat jahat, cuma ingin dicintai oleh seorang suami. Inginkan sebuah perhatian lebih.

Lalu, Allah mengutus Jibril untuk mengangkat kembali kemuliaan Hafsah di mata Nabi Shallahu‘alaihi wasallam. Jibril berkata, “Dia (Hafsah) adalah seorang ahli puasa dan solat. Dia adalah bidadarimu di syurga.” Atas perintah ini, Rasulullah Shallahu‘alaihi wasallam merujuknya kembali. (HR Abu Dawud, no. 2287).

Keutamaan Hafshah binti Umar Radhiallahu ‘anha

  1. Berilmu luas, faqih dan bertakwa.
  2. Ahli puasa dan solat malam.
  3. Berpikiran cerdas hingga menjadi tempat rujukan hukum, hadits dan ibadah selama hidupnya.
  4. Pandai menulis dan membaca yang pada zamannya amat sedikit orang memiliki dua kelebihan ini.
  5. Seorang yang amanah. Diamanahkan oleh Khalifah Abu Bakr untuk menjaga lembaran-lembaran al-Quran yang telah berhasil dikumpulkan oleh Zaid bin Tsabit sampai dengan zaman Khalifah Utsman.
  6. Sentiasa memuhasabah diri. Berkata Abu Nu’aim, “Wanita ahli puasa dan solat. Selalu memandang dirinya tidak berarti dan selalu memuhasabah diri. Hafsah binti Umar bin Khattab, pewaris dan penjaga lembaran-lembaran al-Quran.” (Hilyatul Auliyaa’, vol.2, hlm. 50).


Pada tahun 41 Hijriah, beberapa hari berselang dari bulan Syaaban, Hafsah dijemput kembali mengadap Tuhannya. (Shifatus Shafwah, vol.2, hlm. 40). Beliau dimakamkan di Baqi’. Saat itu, usianya 63 tahun. Sebelum wafat, beliau sempat mensedekahkan semua hartanya yang masih tersisa. Semoga Allah meridhainya.

bersambung

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s