Mengenal Sosok Ummahat Al Mukminin (Bag 5)

by Dwi Rukhaniati Ulya

Pembicara : Ustd. Dia Hidayati, MA (disarikan dari berbagai sumber)

5. Zainab binti Khuzaimah (Ibunda Fakir Miskin)

Namanya adalah Zainab binti Khuzaimah bin Haris. Berdasarkan asal-usul keturunannya, dia termasuk keluarga yang dihormati dan disegani. Tahun kelahirannya tidak diketahui dengan pasti, namun ada riwayat yang menyebutkan bahwa dia lahir tiga belas tahun sebelum kenabian. Sebelum memeluk Islam dia sudah dikenal dengan gelar Ummul Masakin (ibu orang-orang miskin) sebagaimana telah dijelaskan dalam kitab Thabaqat ibnu Saad. Gelar tersebut disandangnya sejak masa jahiliah. Zainab binti Khuzaimah terkenal dengan sifat kemurah-hatiannya, kedermawanannya, dan sifat santunnya terhadap orang-orang miskin yang dia utamakan daripada kepada dirinya sendiri. Sifat tersebut sudah tertanam dalam dirinya jauh sebelum memeluk Islam walaupun ketika itu dia belum mengetahui bahwa orang-orang yang baik, penyantun, dan penderma akan memperoleh pahala di sisi Allah.

Keislaman dan Pernikahannya

Zainab binti Khuzaimah. termasuk kelompok orang yang pertama-tama masuk Islam dari kalangan wanita. Yang mendorongnya masuk Islam adalah akal dan pikirannya yang baik, menolak syirik dan penyembahan berhala dan selalu menjauhkan diri dari perbuatan jahiliah.

Pendapat yang paling kuat mengatakan bahwa suami pertamanya adalah Thufail bin Harits bin Abdil-Muththalib. Karena Zainab tidak dapat melahirkan (mandul), Thufail menceraikannya ketika mereka hijrah ke Madinah. Untuk mernuliakan Zainab, Ubaidah bin Harits (saudara laki-laki Thufail) menikahi Zainab. Sebagaimana kita ketahui, Ubaidah bin Harits adalah salah seorang prajurit penunggang kuda yang paling perkasa setelah Hamzah bin Abdul-Muththalib dan Ali bin Abi Thalib. Mereka bertiga ikut melawan orang-orang Quraisy dalam Perang Badar, dan akhirnya Ubaidah mati syahid dalam perang tersebut.

Setelah Ubaidah wafat, tidak ada riwayat yang menjelaskan tentang kehidupannya hingga Rasulullah . menikahinya. Rasulullah menikahi Zainab karena beliau ingin melindungi dan meringankan beban kehidupan yang dialaminya. Hati beliau menjadi luluh melihat Zainab hidup menjanda, sementara sejak kecil dia sudah dikenal lemah-lembut terhadap orang-orang miskin. Sebagai Rasul yang membawa rahmat bagi alam semesta, rela mendahulukan kepentingan kaum muslimin, termasuk kepentingan Zainab. Beliau senantiasa memohon kepada Allah agar hidup miskin dan mati dalam keadaan miskin dan dikumpulkan di Padang Mahsyar bersama orang-orang miskin.

Meskipun Nabi mengingkari beberapa nama atau julukan yang dikenal pada zaman jahiliah, tetapi beiau tidak mengingkari julukan “ummul-masakin” yang disandang oleh Zainab binti Khuzaimah.

Menjadi Ummul-Mukminin

Tidak diketahui dengan pasti masuknya Zainab binti Khuzaimah ke dalam rumah tangga Rasulullah Shallalahu’alaihi wasallam, apakah sebelum Perang Uhud atau sesudahnya. Beliau Shallalahu’alaihi wasallam menikahinya karena kasih sayang terhadap umat, dikisahkan wajah Zainab tidak begitu cantik dan tidak seorang pun dari kalangan sahabat yang menikahinya. Lamanya berada dalam kehidupan rumah tangga nubuwwah sangatlah singkat hanya 4 – 8 bulan saja. Kematian telah menjemputnya semasa Rasulullah masih hidup. Di dalam kitab sirah pun tidak dijelaskan penyebab kematiannya. Zainab meninggal pada usia relatif muda, kurang dari tiga puluh tahun, dan Rasulullah yang menyalatinya. Allahu A’lam.

Semoga rahmat Allah senantiasa menyertai Sayyidah Zainab binti Khuzaimah. dan semoga Allah memberinya tempat yang layak di sisi-Nya. Amin.

6. Umm Salamah (Dikenal dengan Kesabaran & Ketabahannya)

Kisah selanjutnya adalah Ummu Salamah Radhiallhu’anha. Wanita mulia dengan kesabaran dan ketabahannya membuahkan balasan yang agung.

Imam Adz-Dzahabi menjelaskan tentang Umm Salamah;

“ Umm Salamah adalah wanita terhormat, berhijab dan suci. Namanya Hindun binti Abu Umayyah bin Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum bin Yaqzhah bin Murrah Al-Makhzumiyah. Ummu Salamah merupakan sepupu kepada Khalid bin Walid yang digelar Saifullah (Pedang Alla)h dan Abu Jahal bin Hisyam. Dia termasuk wanita yang pertama kali berhijrah. Sebelum menjadi isteri Nabi Muhammad s.a.w, Ummu Salamah menikah dengan Abu Salamah bin Abdul Asad Al-Makhzumi, seorang lelaki yang soleh.”

Mari kita melirik sejenak kehidupan Ummu Salamah sebelum kedatangan islam. Ummu Salamah adalah seorang wanita yang sangat terhormat dan mulia, berasal dari keluarga yang terhormat kerana beliau berasal dari bani Makhzum. Ayahnya juga adalah seorang tokoh Quraisy yang dermawan dan pemurah dan selalu memberi bekal kepada musafir yang kehabisan bekal. Dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang dermawan membuatkan Ummu Salamah menjadi seorang yang dermawan, mempunyai hati yang bersih serta sangat menghayati arti belas kasihan sehingga memancarlah kebaikan dan kemurahan hatinya kepada manusia.

Sejak kecil lagi Ummu Salamah sudah menampakkan keperibadian yang kuat untuk menjadi wanita terhormat. Beliau juga memiliki paras yang cantik jelita. Setelah meningkat dewasa, Ummu Salamah dipinang oleh Abdullah (Abu Salamah) bin Abdul Asad. Abu Salamah merupakan seorang pemuda Quraisy yang terkenal dengan kemampuan menunggang kuda, beliau juga saudara sesusu Rasulullah Shallahu’alaihi wasallam. Pernikahan Hindun (Ummu Salamah) dan Abu Salamah dilangsungkan dan mereka hidup bahagia. Setelah Islam tersebar ke Mekah, mereka berdua termasuk diantara yang bersegera beriman.

Tibalah saat berhijrah ke Madinah, Ummu Salamah dan suaminya mengalami peristiwa yang amat memilukan. Ketika Abu Salamah, Ummu Salamah dan putera mereka, Salamah bin Abu Salamah sedang bersiap sedia berangkat ke Madinah, terjadi perselisihan antara keluarga bani Asad dan Bani Mughirah. Keluarga bani Mughirah (keluarga Ummu Salamah) melarang Abu Salamah membawa istrinya hijrah, pun bani Asad (keluarga Abu Salamah) tidak mengizinkan anak mereka (Salamah) bersama Ummu Salamah. Setelah itu kedua keluarga besar tersebut berebut putera mereka sehigga keluarga bani Asad menang mendapatkannya. Ummu Salamah dibawa pulang oleh keluarganya ( bani Mughirah), sedangkan anaknya dibawa oleh keluarga suaminya (bani Asad) manakala suaminya, Abu Salamah meneruskan hijrah ke Madinah. Maka Ummu Salamah terpisah dengan anak dan suaminya. Namun begitu Ummu Salamah diberi kesabaran yang tinggi untuk terus sabar melalui ujian itu.

Sejak terpisah dengan suami dan anaknya, setiap pagi Ummu Salamah pergi ke tanah lapang dan duduk sambil menangis. Hal itu dilakukan selama setahun sehingga pada suatu hari seorang sepupunya dari bani Mughirah melihatnya dan berkata kepada keluarga bani Mughirah yang lain;

“ Tidakkan kalian merasa simpati terhadap wanita malang itu? Kalian telah memisahkannya dari suami dan anaknya.”

Tidak lama, keluarga bani Mughirah membolehkan Ummu Salamah menyusul suaminya di Madinah. Keluarga bani Asad juga mengembalikan puteranya. Dengan menunggang unta dan hanya disertai puteranya yang masih kecil, Umm Salamah bertekad menyusul kekasihnya di Madinah. Berbekal tawakkal pada Allah mukminah ini mengarungi perjalanannya. Di tengah jalan, beliau bertemu dengan Utsman bin Thalhah yang membantu perjalanannya hingga nantinya bertemu dengan suami tercinta.

Pertemuan itu membuat Ummu Salamah hidup bahagia dan dapat beribadah dengan tenang, bertaqwa serta menggali setiap bentuk kebaikan dari Rasulullah Shallahu’alaihi wasallam.  Seorang ibu yang berusaha mendidik empat anaknya (Salamah, Zainab, Umar, dan Durrah) dengan menanamkan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Umm Salamah sangat menyokong suami untuk berjuang di medan jihad. Beliau setia menyembuhkan luka-luka pada badan suaminya seusai peperangan, hingga suatu kali suaminya mengalami cedera yang berat pasca perang Uhud. Terbaring dalam sakarat al maut, terjadilah dialog yang sangat mengharukan. Ziyad bin Abu Maryam menuturkan, saat itu Ummu Salamah berkata,

“Aku mendengar bahwa jika seorang isteri ditinggal mati oleh suaminya, sementara suaminya itu menjadi penghuni syurga, lalu isterinya tidak menikah lagi, maka Allah akan mengumpulkan mereka kembali di dalam syurga. Kerana itu aku bersumpah bahwa engkau tidak akan menikah lagi (seandainya aku yang mati terlebih dahulu) dan aku tidak akan menikah lagi setelah engkau mati.”

Abu Salamah berkata, “Maukah engkau taat kepadaku?”

Umm Salamah menjawab, “Ya.”

Abu Salamah berkata, “Jika aku mati terlebih dahulu maka menikahlah lagi. Ya Allah, jika aku mati maka berilah Umm Salamah seorang suami yang lebih baik dariku yang tidak akan membuatnya sedih dan tidak akan menyakitinya.”

Mereka berdua memang pasangan yang romantis.

Tidak lama, Abu Salamah pun meninggal dunia. Dan Allah mengabulkan doanya. Rasulullah Shallahu’alaihi wasallam datang meminang Umm Salamah. Menikah dengan Rasulullah Shallahu’alaihi wasallam, masuk dalam keluarga nubuwwah yang mulia. Betapa Allah mengagungkan Umm Salamah, keagungan yang tiada bandingnya dengan dunia dan seluruh isinya. Umm Salamah menjadi seorang isteri yang sangat baik. Beliau banyak membantu dakwah Rasulullah Shallahu’alaihi wasallam dengan ide-ide yang bernas. Dikisahkan ketika terjadi perjanjian Hudaibiyah, sebuah perjanjian damai antara kaum muslimin dan musyrikin Mekah. Banyak sahabat yang tidak setuju dan tidak puas dengan keputusan Rasulullah Shallahu’alaihi wasallam karena sekilas terasa sangat merugikan kaum muslimin dan sebaliknya banyak menguntungkan kaum musyrikin. Setelah selesai penandatanganan, Rasulullah Shallahu’alaihi wasallam berkata kepada para sahabatnya,

“ Bersiap-siaplah, sembelih binatang korban dan cukurlah rambut kalian.”

Namun, saat itu tidak ada seorang pun sahabat yang berdiri dan melaksanakan perintah beliau meskipun diulang tiga kali. Melihat reaksi sahabat yang demikian, Rasulullah Shallahu’alaihi wasallam lantas masuk ke kemah, menemui Umm Salamah, menceritakan kejadian tersebut. Disinilah Ummu Salamah memainkan perannya dengan baik sekali. Wanita yang punya pemikiran yang hebat ini menyelamatkan para sahabat dari derhaka kepada Rasulullah s.a.w. Umm Salamah berkata;

“ Wahai Nabi Allah, apakah engkau ingin sahabat-sahabatmu mengerjakan perintahmu? Keluarlah dan jangan berbicara dengan siapa pun sebelum engkau menyembelih hewan korbanmu, memanggil pencukur untuk mencukur rambutmu.”

Mengikuti saran Umm Salamah, Rasulullah Shallahu’alaihi wasallam keluar tanpa berbicara dengan siapa pun lalu menyembelih hewan korbannya serta mencukur rambutnya. Ketika melihat hal tersebut, para sahabat lantas bangkit dan menyembelih hewan kurban serta mencukur rambut mereka.

Ummu Salamah juga sangat menyayangi orang-orang yang ada disekelilingnya. Beliau akan sentiasa bahagia jika dapat memberi khabar gembira kepada orang sekelilingnya. Beliau juga yang menyampaikan khabar kepada Abu Lubabah bahwa Allah telah menerima taubatnya. Umm Salamah juga pernah membujuk Rasulullah Shallahu’alaihi wasallam untuk memaafkan Abu Sufyan bin Harits dan Abdullah bin Abu Umayyah. Mereka berdua ingin menemui Rasulullah yang mulia di Abwa’. Beberapa saat lamanya berusaha mengadap. Namun, melihat kedatangan mereka, Rasulullah lantas memalingkan muka karena masih ada perasaan sakit hati atas perlakuan mereka selama ini. Lantas, Umm Salamah bertindak membujuk Rasulullah dengan berkata,

“ Wahai Rasulullah, bagaimanapun mereka bukanlah orang yang paling menyakitimu selama ini.”

Imam Adz-Dzahabi menyebut sifat Ummu Salamah;

“ Dia dianggap salah seorang ulama generasi sahabat.”

Mengapa? Disebabkan setiap saat beliau mendengar bacaan al-Quran langsung dari Rasulullah Shallahu’alaihi wasallam dan juga petuah-petuah beliau Shallahu’alaihi wasallam. Umm Salamah mencapai derajat tinggi, dimuliakan, juga menjadi rujukan para sahabat dalam persoalan hukum dan fatwa, terutama persoalan yang berkaitan dengan wanita. Ummu Salamah meriwayatkan 378 hadits yang dihafalnya dengan baik.

Umm Salamah meninggal dunia ketika usianya sekitar 90 tahun dan sempat berada dalam dalam pemerintahan Khulafah ar-Rasyidin hingga pemerintahan Yazid bin Mu’awiyyah. Imam Adz-Dzahabi berkata,

“ Dia adalah Ummul Mukminin yang paling akhir meninggal dunia.”

Semoga Allah meridhai Umm Salamah dan menjadikan syurga firdaus sebagai tempat persinggahan terakhir buat beliau.

(masih) bersambung

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s