Mengenal Sosok Ummahat Al Mukminin (Bag 7)

by Dwi Rukhaniati Ulya

Pembicara : Ustd. Dia Hidayati, MA (disarikan dari berbagai sumber)

9. Umm Habibah/Ramlah binti Abu Sufyan (Putri Pemuka Quraysh)

Alangkah perlunya kaum muslimin hari ini untuk mengkaji perjalanan hidup sayyidah yang agung ini, agar mereka menyadari betapa jauhnya perbandingan antara mereka dengan generasi awal yang keluar dari madrasah nubuwwah, sehingga mereka mengetahui betapa pengaruh iman itu sangat menakjubkan pada jiwa mereka yang menyambut panggilan Allah dan Rasul-Nya. Hingga mereka menjadi lentera yang menebarkan petunjuk dan cahaya.

Diantara lentera tersebut adalah Ummul Mukminin, Ramlah binti Abu Sufyan. Putri seorang pemuka Quraisy dan pimpinan orang-orang musyrik hingga Fath Al Makkah. Beliau radhiallhu’anha tetap beriman sekalipun ayahnya memaksa beliau untuk kafir ketika itu. Abu Sufyan tak kuasa memaksakan kehendak. Justru beliau menunjukkan kuatnya pendirian dan mantapnya kemauan. Rela menanggung beban yang berat dan melelahkan untuk memperjuangkan aqidahnya.

Suami pertamanya adalah Ubaidullah bin jahsy yang beragama tauhid sebelum datangnya Islam. Kemudian, cahaya kebenaran menerangi sanubari sepasang suami istri ini. Tatkala kekejaman orang-orang kafir atas kaum muslimin mencapai puncaknya, Ramlah berhijrah menuju Habasyah bersama suaminya. Dan disanalah beliau melahirkan seorang anak perempuan yang diberi nama Habibah dan sehingga beliau dijuluki Umm Habibah.

Umm Habibah senantiasa bersabar memperjuangkan diennya di negeri asing, jauh dari keluarga dan kampung halaman bahkan terjadi musibah yang tidak dia sangka sebelumnya. Beliau bercerita:

“Aku melihat didalam mimpi, suamiku Ubaidullah bin Jahsy dengan bentuk yang sangat buruk dan menakutkan. Maka aku terperanjat dan terbangun, kemudian aku memohon kepada Allah dari hal itu. Ternyata tatkala pagi, suamiku telah memeluk agama Nasrani. Maka aku ceritakan mimpiku kepadanya namun dia tidak menggubrisnya”.

Suaminya ternyata telah murtad dan lebih tertarik dengan agama nasrani yang dianut penduduk Habasyah. Lalu merayu bahkan bertindak keras pada istrinya agar mau ikut pindah keyakinan. Namun, Umm Habibah tak bergeming, tetap pada pendirian semula. Beliau justru mengajak suaminya agar tetap dalam kebenaran namun dia menolak dan meremehkannya. Yang menyedihkan, dirinya makin sibuk dengan minuman keras (khamr) hingga akhirnya nyawanya tercabut dalam kondisi itu.

Sedih dan pilu dirasa, ujian kali ini begitu berat. Seorang wanita sendirian, berstatus janda berada di negeri asing hanya bersama bayinya. Pun ketika ingin kembali ke kampung halaman/keluarganya dia ditolak karena imannya. Namun, pilihan untuk memenangkan iman di dada lebih membara. Sembari tawakkal yang jadi senjata semoga mampu menghadapi ujian berat tersebut. Beliau wujudkan firman Allah (artinya):

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.Dan memberikan rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.Dan berangsiapa yang telah bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”.(ath-Thalaq:2-3).

Allah berkehendak untuk membulatkan tekadnya, maka dia melihat dalam mimpinya ada yang menyeru: “Wahai Ummul Mukminin!”. Terperanjat dan bangun karena mimpi tersebut. Beliau menakwilkan mimpi tersebut bahwa Rasulullah kelak akan menikahinya.

Selesai masa ‘iddah, tiba-tiba seorang sahaya dari Najasyi memberitahunya bahwa telah datang berita gembira. Dirinya dipinang oleh sebaik-sebaik manusia pilihan Allah.  Alangkah bahagianya hingga beliau berkata: “Semoga Allah memberikan kabar gembira untukmu”. Lalu ia tanggalkan anting dan gelang kaki untuk diberikan kepada sahaya tersebut, saking senangnya. Umm Habibah meminta Khalid bin Sa’ad bin al-‘Ash menjadi wali dirinya untuk menerima lamaran Najasyi mewakili Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Pada suatu sore, Raja Najasyi mengumpulkan kaum muslimin yang berada di Habasyah, maka datanglah mereka dengan dipimpin oleh Ja’far bin Abi Thalib, putra paman Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Selanjutnya Raja berkata:

“Segala puji bagi Allah Raja Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengkaruniakan Kemanan, Yang Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki Segala Keagungan, Aku bersaksi bahwa tiada ilah yang haq kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah yang telah dikabarkan oleh Nabi Isa bin Maryam ‘alaihissalaam . 

Amma Ba’du. Sesungguhnya Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah mengirim surat padaku yang isinya melamar Ummu Habibah binti Abu Sufyan. Ummu Habibah telah menerima lamaran Rasulullah, adapun maharnya adalah 400 dirham“. Kemudian beliau letakkan uang tersebut didepan kaum muslimin.

Kemudian Khalid bin Sa’id berkata:”Segala puji bagi Allah, aku memuji-Nya dan memohon pertolongan-Nya, aku bersaksi bahwa tiada ilah yang haq kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, yang Allah mengutusnya dengan membawa hidayah dan dein yang haq untuk memenangkan dien-Nya walaupun orang-orang musyrik benci.

Amma ba’du, aku terima lamaran Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan aku nikahkan beliau dengan Ummu Habibah binti Abu Sufyan, semoga Allah memberkahi Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Selanjutnya Najasyi menyerahkan mahar tersebut kepada Khalid bin Sa’id kemudian beliau terima. Najasyi mengajak para sahabat untuk mangadakan walimah dengan mengatakan: “Kami persilahkan anda untuk duduk karena sesungguhnya sunnah para Nabi apabila menikah hendaklah makan-makan untuk merayakan pernikahan”.

Setelah kemenangan Khaibar, sampailah rombongan Muhajirin dari Habasyah, maka Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dengan sebab apa aku harus bergembira, karena kemenangan Khaibar atau karena datangnya Ja’far?”

Sedangkan Ummu Habibah bersama rombongan yang datang. Maka bertemulah Rasululah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam dengannya pada tahun keenam atau ketujuh hijriyah. Kala itu Umm Habibah berumur 40 tahun dan jadilah beliau Ummul Mukminin.

Umm Habibah menempatkan urusan dien pada tempat yang pertama.Beliau utamakan aqidahnya daripada keluarga. Ikrar loyalitas hanyalah untuk Allah dan Rasul-Nya bukan lainnya. Dibuktikan sikap beliau terhadap ayahnya, Abu Sufyan. Suatu ketika sang ayah masuk ke rumahnya di Madinah. Datang untuk meminta bantuan agar menjadi perantara antara dirinya dengan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam memperbaharui perjanjian Hudaibiyah yang telah dikhianati sendiri oleh orang-orang musyrik. Abu Sufyan ingin duduk diatas tikar Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam, namun tiba-tiba dilipat oleh Umm Habibah, maka Abu Sufyan bertanya dengan penuh keheranan:

“Wahai putriku aku tidak tahu mengapa engkau melarangku duduk di tikar itu, apakah engkau malarang aku duduk diatasnya?”. Beliau menjawab dengan keberanian dan ketenangan tanpa ada rasa takut terhadap kekuasaan dan kemarahan ayahnya: “Ini adalah tikar Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam sedangkan engkau adalah orang musyrik yang najis, aku tidak ingin engkau duduk diatas tikar Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam“. Abu Sufyan berkata: “Demi Allah engkau akan menemui hal buruk sepeningalku nanti”.

Namun Ummu Habibah menjawab dengan penuh wibawa dan percaya diri: “Bahkan semoga Allah memberi hidayah kepadaku dan juga kepada anda wahai ayah, pimpinan Quraisy, apa yang menghalangi anda masuk Islam? Sedangkan engkau menyembah batu yang tidak dapat melihat maupun mendengar!” Maka Abu Sufyan pergi dengan marah dan membawa kegagalan.

Setelah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam wafat, beliau tidak keluar rumahnya kecuali untuk shalat. Juga tidak meninggalkan Madinah kecuali untuk haji hingga wafatnya. Beliau wafat ketika berumur tujuh puluhan tahun setelah memberikan keteladanan yang paling tinggi dalam menjaga kewibawaan diennya dan bersemangat atasnya. Tinggi dan mulia jauh dari pengaruh jahiliyah juga tidak menghiraukan nasab manakala bertentangan dengan aqidahnya, semoga Allah meridhainya.

10. Shafiyyah binti Huyay (Putri Yahudi Khaibar)

Shafiyah binti Huyay itulah namanya. Salah satu istri Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang bukan keturunan Arab Quraysh melainkan putri tokoh yahudi Khaibar. Ayahnya bernama Huyay bin Akhtab adalah seorang pemimpin Yahudi Bani Nadhir yang berkuasa di kawasan bernama Khaibar, terletak di sebelah barat laut Kota Madinah. Ibunya bernama Darrah binti Samail, puteri ketua Bani Quraizah.

Shafiyah dibesarkan dalam keluarga kaya nan berpengaruh. Pendidikan yang sempurna pun dia diperoleh. Seorang yang cantik rupawan dengan akhlaq yang menawan itulah dirinya. Suami pertamanya adalah Sallam Ibn. Misham yang juga salah seorang penghulu kaum Yahudi. Namun perjodohan mereka tidak berlangsung lama. Safiyah kembali tinggal bersama keluarganya. Pernikahan kedua dengan Kinanah Ibn Rabi’ sebelum akhirnya menikah dengan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat melakukan perluasan da’wah di kawasan sekitar madinah. Salah satunya wilayah Khaibar yang kebanyakan dihuni kaum yahudi. Pemimpinnya adalah Huyay yang menolak dakwah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Terjadilah pertempuran dahsyat yang tak terelakkan antara kaum muslimin dengan kaum yahudi Khaibar. Dan Allah berkenan memberikan kemenangan pada Rasul-Nya.

Terbunuhlah seluruh keluarga Shafiyah termasuk suami, ayah juga saudara lelakinya. Dia sendiri menjadi salah satu tawanan pasukan Muslimin. Keadaan yang sangat menghinakan. Dibawalah para tawanan ini pada Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Safiyah kelihatan diam dan ketakutan. Namun, mereka dilayani dengan baik oleh pasukan Muslimin.

Di depan para tawanan, baginda Shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengambil jubahnya dan meletakkan di bahu Shafiyah. Sebagai tanda kasihan kepadanya. Jauh di lubuk hati Safiyah, ada perasaan telah dimuliakan dan diberi penghormatan yang tinggi dalam masyarakat Muslim.

Selepas peperangan, salah seorang pasukan muslim bernama Dihya Al Kalbi meminta kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam seorang tawanan wanita. Beliau Shallallaahu ‘alaihi wa sallam membolehkan memilih salah seorang. Dihya memilih Shafiyah. Salah seorang sahabat memberitahukan bahwa Safiyah adalah putri ketua Bani Nadhir dan Bani Quraizah yang sepatutnya menjadi hak Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Safiyah tidak sepatutnya diperlakukan seperti wanita biasa. Akhirnya beliau Shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengganti wanita lain untuk Dihya.

Rosulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam merasa kasihan terhadap Shafiyah yang hidup sebatang kara tanpa saudara dan terpaksa menanggung akibat permusuhan yang tidak diinginkannya. Shafiyah mau menerima Islam, lalu beliau Shallallaahu ‘alaihi wa sallam melamarnya. Shafiyah menerima dengan suka cita. Keadaannya tidak lagi terhina sebagai tawanan perang, bahkan menjadi ummul mukminin.

Safiyah tekenal dengan kecantikannya meskipun tubuhnya tidak tinggi. Wanita Ansar berkumpul untuk melihatnya termasuk isteri-isteri Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Ketika Aisyah pulang dari melihat Shafiyah, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bertanya: “Bagaimanakah pendapatmu tentang Shafiyah?” Tanya Rasulullah s.a.w. “Dia wanita Yahudi”, Jawab Aisyah. “Janganlah berkata begitu, Shafiyah telah memeluk Islam dan Islamnya adalah lebih baik”, jelas beliau Shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Shafiyah tidak diterima dengan baik oleh isteri-isteri Rosulullah lainnya. Mereka mengejek Shafiyah yang berketurunan Yahudi. Hingga suatu hari Rosulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam mendapati Shafiyah menangis sedih. Berkatalah beliau Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menghiburnya: “Katakanlah kepada mereka bahwa bapakmu ialah Harun sedangkan Musa adalah pamanmu dan suamimu Nabi Allah.”

Beliau Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menghibur dengan mengatakan bahwa pernikahan mereka karena perintah Allah Subhanahu wata’ala. Kata-kata itu menjadi obat kesedihan hatinya bahkan menambah kekuatan dalam menghadapi ujian.

Shafiyah dekat dengan puteri kesayangan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam, Fatimah. Dia berikan anting emas kepada Fatimah juga pada isteri-isteri yang lain setelah pernikahannya. Shafiyah seorang yang tenang, lemah lembut, penyabar, sopan juga tabah. Selepas kemenangan Muslimin dalam peperangan Khaibar, Bilal telah membawa Safiyah dan sepupunya melalui kawasan di mana mayat-mayat orang-orang Yahudi bergelimpangan termasuklah mayat kaum kerabat dan suami yang dicintai. Sepupunya itu tidak dapat menahan pilu melihat keadaan itu. Dia menangis sekuat hatinya. Tetapi Safiyah tampak tenang dan tidak menunjukkan tanda sedih dan tertekan.

Beliau amat menyayangi dan mencintai Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Pintar memasak makanan yang lezat untuk suaminya. Ketika Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam jatuh sakit, diakhir masa hidupnya, Safiyah tidak dapat menahan kesedihan melihat derita yang dialami oleh suami yang mulia lalu menangis dan berkata: “Wahai Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam kalaulah aku dapat menanggung semua penderitaanmu itu sendiri supaya engkau merasa ringan dengan sakitmu.”

Isteri-isteri baginda yang lain terkejut mendengar kata-kata Shafiyah itu. Tetapi beliau Shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengatakan: “Demi Allah, sesungguhnya Safiyah adalah benar.”

Keikhlasannya terhadap Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak diragukan lagi. Beliau radhiallahu ‘anha sangat menghormati Rosul utusan Allah. Pernah suatu saat dirinya mendengar percakapan ayah dan pamannya tentang Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam sekembali dari Madinah. Untuk memastikan kebenaran Rasul utusan Allah seperti yang diberitakan dalam kitab suci mereka. Salah seorang mereka berkata: “Apakah pandangan engkau tentangnya?” “Beliau adalah Nabi yang diperkatakan dalam kitab kita”, jawab seorang lagi.

Sejak peristiwa itu, Shafiyah yakin tentang kebenaran Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam sebagai Rasulullah. Bahkan saat Safiyah masih berada di samping suaminya, Kinanah, beliau bermimpi melihat bulan dari Yatsrib jatuh ke pangkuannya. Ketika diceritakan mimpinya itu berkata Kinanah: “Engkau ingin menikah dengan raja yang datang dari Madinah itu?” Kemudian Kinanah menampar muka Safiyah dan tamparan itu meninggalkan bekas kebiru-biruan pada matanya.

Safiyah amat tertarik dengan ajaran yang disampaikan oleh Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Beliau mencintai konsep kemanusiaan Islam dengan sempurna. Safiyah sentiasa mematuhi semua ajaran agama dan menghormati hukum-hukum Islam dengan ikhlas. Beliau menjadi seorang Yahudi yang beriman kepada Allah S.W.T. dan berbangga kerana memeluk agama Islam yang suci dan benar.

Seperti Ummul Mukminin yang lain, Safiyah juga adalah gudang ilmu. Mereka yang mencari ilmu biasa berkumpul di rumah beliau untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Sepulang menunaikan haji, rumah Safiyah ramai dikunjungi wanita dari jauh seperti Kufah untuk bertanya pelbagai soalan kepada beliau. Shafiyah menjawab dengan tepat dan berkesan setiap persoalan yang diutarakan.

Terdapat sejumlah hadits yang diriwayatkan oleh Shafiyah. Imam-imam yang terkenal mengambil hadits dari beliau. Diantaranya Muslim bin Safuan, Yazid bin Makhtab, Ishaq bin Abdullah dan masih banyak lagi. Abdul Birr pernah berkata: “Safiyah adalah seorang wanita yang bijaksana, berpengetahuan dan lemah lembut.”

Safiyah telah menghembuskan nafas terakhir pada tahun 50 Hijrah ketika usianya mencapai 60 tahun. Beliau dimakamkan di Baqi’. Shafiyah RA memiliki banyak sifat terpuji. Beliau pintar, terpelajar dan lemah lembut. Sifat penyabar dan lemah lembut menjadikan diri beliau pribadi Muslimah yang unggul.

(belum) tamat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s